Semua Manusia Itu Jenius

Meskipun otak manusia adalah organ yang paling sulit dipelajari tapi toh berhasil juga, akhirnya tengkorak ini bisa dibuka,….otaknya dilihat, diteliti, dan dipelajari bahkan pada saat si pasien tersebut dalam keadaan sadar …dan dapat diajak bicara selama penelitian….hebat ya manusia….ya iyalah…..siapa dulu yang menciptakan?     Tapi…apakah semua manusia jenius?. Saya tidak mengada-ada, dasarnya adalah ini…… ”manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Pencipta kita…”, kata-kata ini ada dalam Alkitab.     Tapi lagi,  apa betul manusia diciptakan demikian?…buktinya?.  Sekarang manusia sudah mau buat “villa” di luar angkasa. Lihat keajaiban dunia kedokteran semisal dimungkinkannya proses kloning (meskipun banyak kontroversi). Kemampuan para dokter "membelah" kepala yang dempet pada kembar siam. Pernah dengar gadis kecil yang memiliki kaki "duyung" kemudian "dipermak" sampai normal kembali?. Lihat juga perkembangan dunia informatika yang sedemikian dahsyatnya. Bagaimana mungkin rangkaian “chip-chip” itu bisa menghasilkan produk-produk teknologi informasi seperti yang ada saat ini.  Tapi…..apa buktinya sichhh jika manusia itu memang jenius?.....ini beberapa buktinya. Penelitian mengenai fungsi kerja otak manusia yang paling terkenal dilakukan oleh Prof. Marian dari Universitas California yang membedah otak Einstein, si manusia jenius itu. Dari penelitian-penelitian  ini banyak fakta yang mengubah pandangan mengenai kecerdasan manusia berubah dan berdampak pada pola pendidikan anak pada akhirnya.     otak  Dahulu kecerdasan dianggap hanya dari faktor keturunan....familier dengan para “ortu” yang sering ngomong…"bebet, bibit, bobot...?, tetapi penelitian membuktikan bahwa "perkembangan kecerdasan disebabkan oleh sel-sel otak yang berkembang baik", yang dipicu oleh lingkungan yang memberi rangsangan proses belajar. Juga faktor asupan gizi mulai dari bayi dalam kandungan sampai perkembangan otaknya maksimal.     Dahulu kecerdasan dianggap anugerah Tuhan hanya pada anak-anak tertentu saja, sementara penelitian membuktikan bahwa "setiap anak lahir dengan jumlah sel otak yang hampir sama”. Kemudian yang berperan pada perkembangan sel-sel otak selanjutnya adalah asupan gizi dan lingkungan yang mendukung.     Penemuan lain yang mendukung kejeniusan manusia ini adalah ditemukannya suatu “area spesial di otak kita yang berbeda-beda pada tiap orang”,  dimana area  ini berfungsi dalam kemampuan-kemampuan khusus,  kita sering menyebutnya “bakat” atau talenta. Nah, kalau yang ini berarti kita harus menggalinya dalam-dalam sampai kita tahu bakat kita apa. Peran orang tua hanya membantu untuk menemukan bakat dari anak-anaknya. Coba sejak balita kita orang tua sudah mulai memperkenalkan berbagai permainan yang bisa menjadi pemicu otak balita bekerja, akhirnya akan ketahuan bakat anak kita apa.  Dari penelitian ditemukan juga bahwa  setiap manusia terlahir jenius karena mereka dilengkapi dengan apa yang kita sebut saja “software”.  Perangkat ini disebut juga The Highly Order Thinking atau Cara Berpikir Tingkat Tinggi, area ini juga biasa disebut Area Eksekutif dari otak. Disini terletak fungsi luhur sehingga manusia bisa menjadi “seseorang” yang hidup, mampu bersosialisasi  dan berkarakter.  Jadi tinggal masing-masing kita yang sudah diperlengkapi dengan kemampuan ini untuk mengoptimalkan kerja software ini sejak usia dini.  Dan fakta-fakta berikut ini yang paling menarik. Para peneliti telah menemukan bahwa otak manusia secara fungsional  terdiri atas tiga susunan yang disebut Otak Reptil, Otak Mamalia dan Otak Neo Kortex.  Otak Reptil berfungsi untuk mengatur sistem pertahanan tubuh dan refleks seperti contohnya jika kita terkena panas kemudian menghindar, jika kita ketakutan kemudian denyut nadi kita bertambah kuat, jika kita diserang kemudian kita menghindar atau melawan. Otak Mamalia berfungsi mengatur irama emosi, baik itu emosi positif dan emosi negatif. Sedangkan Otak Neo Kortex berfungsi untuk proses berfikir kreatif.  Dari ketiga susunan otak diatas  diketahui bahwa reaksi manusia ditentukan oleh otak mana yang bekerja dominan antara Otak Reptil dan Otak Neo Kortex. Kedua otak ini hanya dapat bekerja secara bergantian, tidak bersama-sama dan ini sangat tergantung pada reaksi emosi  yang diterima oleh Otak Mamalia. Jika reaksi emosi yang diterimanya negatif,  maka secara otomatis akan mengaktifkan Otak Reptil dan apabila reaksinya cenderung positif maka Otak Neo Kortex yang bekerja. Penamaan Otak Reptil memang menggangu bukan, tapi sebenarnya bermanfaat juga, paling tidak dapat memotivasi kita untuk tidak bertingkah seperti “reptil” kan?.     Apa contohnya dan bagaimana ketiga susunan otak tersebut bekerja?.    Coba lihat diri kita masing-masing. Kalau memang reaksi kita selama ini seperti reptil alias reaktif seperti suka meledak-ledak, membentak, menyerang, memukul dan seterusnya, aduh kecian… deh. Sebenarnya itu akibat pengalaman masa kecil yang kita terima, sayangnya trauma-trauma ini melekat kuat dalam memori otak kita. Akibat reaksi emosi yang kita terima negatif menyebabkan Otak Reptil yang bekerja. Di kutub yang lain diketahui bahwa  manusia baru bisa berpikir dan belajar pada saat Otak Kortex nya aktif, sehingga mudah bukan, jika kita ingin anak-anak kita semua jenius,  ayo buat atmosfer sedemikian rupa yang menimbulkan emosi-emosi positif. Penemuan ini membuka mata kita untuk mengubah secara revolusioner tentang bagaimana kita para orang tua dan guru menerapkan pola pengajaran dan di rumah tentunya menjadi bagian kita orang tua untuk makin intens  “mengenal” anak kita masing-masing, karena peran orang-tua memainkan posisi kunci untuk bagaimana “nasib” anak kita kelak.         Bagaimana hidup kita sekarang, bagaimana karakter kita sekarang sangat terkait dengan lingkup keluarga. Memang dalam keluarga inti inilah kita dibentuk menjadi bagaimana kita kelak, pengaruh lingkungan hanya menempati persentase kecil. Apa kita sekarang menyesal kok rasanya dalam banyak persoalan akhirnya kita menyadari “Otak Reptil” kitalah yang banyak bekerja?.     Tapi masak sih kita tidak bisa berubah?. Bisa kok … coba salah satu resep  ini. Ada satu hal yang membantu dan menciptakan energi positif untuk kita punya kemauan berubah, yaitu keinginan kita untuk memberikan segala hal yang terbaik untuk anak-anak kita, terutama adalah suasana hangat dimana anak-anak kita bisa berkembang maksimal.  Usaha ini bagaikan pedang  bermata dua, yaitu bisa membuat anak kita jenius dannnnn…..kita juga menjadi “manis”.  Ada lagi…..selain kondisi atmosfer yang mendukung yaitu bagaimana kita melatih anak-anak kita sangat mempengaruhi perkembangan otaknya. Penelitian berikut pasti menarik untuk diketahui.  Dalam suatu penelitian, caranya dengan “memotret” otak pada anak-anak yang mengalami kesulitan membaca. Kemudian anak-anak ini diberi pelatihan sampai mereka bisa mengatasi ketidak-mampuannya membaca dan kemudian otak mereka di foto lagi menggunakan “functional magnetic resonance imaging(fMRI). Alat foto ini mengunakan teknologi pencitraan canggih untuk otak, dan disini digunakan untuk mengobservasi fungsi otak anak-anak ini, yang sudah diberi pelatihan membaca, dan hasilnya?  Dari pencitraan menunjukkan bahwa hasil pelatihan membaca tidak hanya memperbaiki area kemampuan membaca otak tapi juga memperbaiki fungsi otak, dan bahkan otak mulai berfungsi seperti pada anak-anak yang tidak mempunyai kesulitan membaca. Ini dikatakan oleh Duane Alexander MD, direktur dari NICHD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar