Teori Konspirasi, Sebuah Mitos Moderen ?

Sebagaimana peristiwa penabrakan pesawat komersial ke gedung World Trade Center tanggal 11 September 2001 telah memunculkan teori konspirasi di kalangan khususnya masyarakat Amerika dan Inggris, peristiwa bom Marriot Jum'at 17 Juli 2009 yang baru lalu juga memunculkan berbagai teori konspirasi di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Yang menarik, bahkan presiden SBY sendiri sempat melemparkan teori konspirasi tidak selang lama dari peristiwa peledakan bom dalam pidato resmi di istana Negara. Yang lebih menarik lagi, bahwa teori konspirasi yang dilontarkan presiden oleh beberapa kalangan dianggap sebagai upaya untuk melakukan konspirasi, dan lahirlah teori konspirasi baru.
Rupanya, teori konspirasi memiliki pangsa pasar yang cukup bagus di pasar teori yang mencoba menerangkan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang berlangsung di sekitar kita.Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajukan sebuah teori yang lain untuk ikut meramaikan pasar teori konspirasi. Tulisan ini lebih sekedar upaya untuk memahami orang atau kelompok orang yang lebih suka menganut teori tersebut.
Sebuah teori selalu membutuhkan bukti-bukti untuk mendukungnya. Dalam teori konspirasi, bukti-bukti yang ditawarkan seringkali tidaklah untuk mendukung pembuktian akan suatu peristiwa atau pokok pembicaraan tetapi digunakan untuk melakukan pembenaran terhadap suatu pola umum akan gagasan-gagasan konspirasi. Alur-alur cerita yang bersifat rahasia lebih sering dipakai sebagai alat bukti, dan menghindari keharusan untuk meneliti kebenaran bukti-bukti tersebut. Karena bersifat rahasia, akan sulit dilakukan pengujiannya sehingga yang diperlukan hanyalah untuk percaya.

Pendirian akan pemikiran konspirasi berdasarkan pada apa yang oleh Goertzel disebut sebagai "skeptisisme selektif". Penganut konspirasi sangat meragukan informasi dari pihak resmi atau sumber-sumber lain yang dicurigai. Tetapi, tanpa perlu kritis, mereka menerima begitu saja sembarang sumber yang mendukung praanggapan yang sudah dimilikinya. Argumentasi yang diajukan teoritisi konspirasi lebih memperlihatkan kepada kita siapa dia/mereka tenimbang kejadiannya itu sendiri.
Menurut psikolog Viren Swami dari Universitas Westminster, teori konspirasi ditemukan lebih kuat pada individu yang memiliki kepribadian yang curiga dan bertentangan terhadap orang lain yang memiliki rasa ingin tahu intelektual dan daya imaginasi aktif. Studi Swami juga menunjukkan bahwa kecenderungan yang lebih kuat ada pada penganut teori konspirasi untuk melompat ke kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang sangat terbatas.
Diskusi
Nampaknya bahwa kepercayaan konspirasional memberikan layanan yang serupa dengan fungsi psikologis pada takhayul, paranormal dan mungkin juga kepercayaan keagamaan, yang membantu manusia memperoleh rasa pengendalian terhadap suatu dunia yang tidak dapat diprediksi.
Saya khawatir bahwa bagaimanapun manusia membutuhkan mitos. Ketika manusia moderen lebih bertumpu pada penggunaan akal, dan sering mempertanyakan mitos-mitos kuno atau lama, mereka tanpa menyadarinya sedang menciptakan mitos-mitos baru. Dan salah satu mitos karya manusia moderen itu bernama Teori Konspirasi. Benarkah kekhawatiran saya? Barangkali hanya Tuhan yang tahu. Wallahu a'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar